tahu sedikit

TAHU SEDIKIT

Laman

Rabu, 05 Oktober 2016

Gawat Darurat Neonatus Pada Persalinan Preterm



Persalinan preterm atau kurang bulan akan membawa konsekuensi bayi yang lahir menjadi bayi preterm atau bayi kurang bulan (BKB) . Bila terjadi kegagalan adaptasi pada kehidupan ekstra uterin maka akan terjadi gawat neonatus yang dapat berdampak kematian atau kecacatan. Bayi cukup bulan (BKB) mempunyai banyak risiko atau masalah akibat kurang matangnya fungsi organ antara lain Penyakit membran hialin, asfiksia, perdarahan intrakranial, gangguan neurologik, hipotermia, gangguan metabolik dan kecenderungan untuk terjadinya infeksi neonatal.
Sedangkan komplikasi jangka panjang antara lain akan mengakibatkan terjadinya retardasi mental, gangguan sensori (gangguan pendengaran dan penglihatan, kelainan retina ROP (retinopathy of prematurity). Upaya yang paling penting adalah mencegah terjadinya persalinan preterm semaksimal mungkin dengan pemeriksaan antenatal yang baik, meningkatkan status gizi ibu, mencegah kawin muda dan mencegah serta mengobati infeksi intra uterin.
Apabila sudah terjadi ancaman persalinan, maka pemberian steroid antenatal ternyata menunjukkan bukti medis yang bermakna dalam mematangkan fungsi paru. Apabila bayi terpaksa lahir sebagai BKB, maka manajemen yang cepat tepat dan terpadu harus sudah mulai dilaksanakan pada saat antepartum, intrapartum dan postpartum atau pasca natal. Manajemen intrapartum dengan menerapkan pelayananan neonatal esensial, manajemen pasca natal dengan strategi neuroprotektif, pencegahan sepsis neonatorum, pemberian nutrisi adekuat dan perawatan pasca natal lain nya untuk bayi baru lahir.
Neonatus atau bayi baru lahir (BBL) merupakan hasil reproduksi yang berhasil dilahirkan oleh seorang ibu hamil, sebagai suatu makhluk yang “unik“ oleh karena mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dengan kehidupan ekstrauterin. Di dalam rahim kebutuhan nutrisi dan oksigen dipenuhi sepenuhnya oleh ibu melalui mekanisme uteroplasental. Begitu lahir seorang bayi harus mampu melakukan adaptasi agar bisa bertahan hidup. Kemampuan adaptasi ini sangat tergantung pada maturitas organ , kondisi janin ( berat lahir, masagestasi ) dan faktor lingkungan ( sebagian adalah faktor ibu ). Proses adaptasi yang tidak berjalan semestinya dapat mengakibatkan keadaan gawat darurat neonatus yang dapat menjadi pangkal bencana, karena dapat mengakibatkan kematian atau kecacatan Bayi preterm atau bayi prematur atau BKB adalah
bayi yang dilahirkan ibu pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu dengan variasi berat lahir, dapat di golongkan kecil untuk masa kehamilan, sesuai untuk masa kehamilan atau besar untuk masa kehamilan. Tetapi pada umumnya BKB lahir sebagai bayi berat lahir rendah (BBLR). Sekitar 19% atau kurang lebih 24 juta pertahun bayi baru lahir sebagai BBLR. Bayi berat lahir rendah (BBLR) mungkin menjadi faktor tunggal yang penting dalam kematian neonatal, di samping itu BBLR juga menjadi determinan yang signifikan untuk angka kematian dan kesakitan pada masa anak-anak. Kontribusi terbesar kematian pada BBLR adalah prematuritas, infeksi, asfiksia pada waktu lahir, hipotermia dan gangguan pemberian minum.
1.       Sebagian besar dari bayi tersebut lahir dari usia kehamilan ibu sangat prematur (BKB), yaitu antara 23 sampai 33 minggu
2.       Tujuan penulisan ini untuk memaparkan tentang gawat darurat neonatus pada persalinan preterm, agar dapat diantisipasi dengan kewaspadaan yang tinggi sehingga tidak terjadi kematian atau gejala sisa atau kecacatan. Faktor yang berhubungan dengan bayi kurang bulan (BKB) dan bati berat lahir rendah (BBLR) Sangat sulit untuk membedakan faktor yang berhubungan dengan kurang bulan dan IUGR (intra uterine growth retardation ) atau janin tumbuh lambat. Hubungan yang kuat dan positip antara BKB dan BKMK atau janin tumbuh lambat adalah dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah.
3.       Di samping itu kehamilan ganda (kembar) juga sering terjadi pada persalinan preterm dengan frekuensi sekitar 15 %, Hal hal lain yang sering dihubungkan dengan persalinan preterm yang berkaitan dengan kesehatan ibu adalah
·         Riwayat persalinan preterm sebelumnya
·         Kadar alfafetoprotein yang tinggi yang tidak diketahui sebabnya pada trimester ke dua
·         Penyakit atau infeksi yang tidak diobati dengan baik ( misalnya Infeksi Saluran Kemih infeksi kulit ketuban / amnionitis )
·         Abnormalitas uterus dan serviks
·          Ketuban pecah dini
·         Plasenta previa
Faktor risiko terjadinya persalinan preterm antara lain perawatan antenatal yang tidak baik, status nutrisi ibu yang buruk, ibu muda ( umur kurang dari 18 tahun) dan penyalahgunaan obat. Masalah Bayi Kurang Bulan  Masalah yang ditemukan pada BKB adalah akibat imaturitas sistem organ. Biasanya akibat kegagalan adaptasi kehidupan di luar rahim, disebabkan karena kurang matangnya sistem organ.
1.       Pernapasan: bayi kurang bulan kurang dapat beradaptasi dengan pergantian gas dan terjadi depresi perinatal di ruang bersalin. Respiratory Distress Syndrome (RDS) dapat disebabkan karena defisiensi surfaktan dan apne dapat disebabkan karena kurang matangnya mekanisme pengaturan napas. Dilaporkan bahwa BKB juga mempunyai risiko terjadi Bronkhopulmonary dysplasia (BPD), Wilson Mikity, dan chronic pulmonary insufficiency. Salah satu penyulit pada BBLR adalah asfiksia karena faktor paru yang belum matang pada bayi BBLR yang prematur, atau karena distres respirasi (gangguan napas ) pada BBLR yang kecil untuk masa kehamilannya; sehingga BBLR mempunyai dua risiko yang mengancam kehidupannya yaitu berat lahir rendah dan asfiksia. Asfiksia adalah kegagalan bernapas secara spontan dan teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir yang merupakan gangguan pada janin dan atau pada neonatus yang berhubungan dengan kekurangan O2 (hipoksia) dan/atau gangguan perfusi (iskemia) pada berbagai organ  Insidens asfiksia pada usia kehamilan kurang dari 36 minggu adalah 9%, sedang lebih dari 36 minggu sekitar 0,5% dan menyebabkan kematian 20% kasus. Insidens asfiksia ini sering dihubungkan dengan palsi serebral.
2.       Neurologik: bayi kurang bulan (BKB) berisiko mempunyai masalah neurologi akut, seperti perdarahan intra kranial, dan depresi perinatal. Penyebab utama kelainan atau gangguan neurologis pada bayi baru lahir adalah ensefalopati iskemik hipoksik (EIH), di samping perdarahan periventrikular dan intraventrikular yang menyebabkan  kelainan neurologis terutama padabayi kurang bulan. Jejas pada otak yang terjadi pada masa perinatal ini dikenal sebagai penyebab utama gangguan neurologis berat dan terjadi dampaknya dalam jangka panjang yang dikenal sebagai palsiserebral (cerebral palsy = CP) pada bayi dan anak.  Palsi serebral ini akibat dari ensefalopati iskemik hipoksik (EIH). Insidens EIH ini sekitar 1-2 setiap kelahiran bayi cukup bulan. Pada BKB insidens EIH, kematian dan cacat (palsi serebral) secara signifikan lebih tinggi dibanding bayi cukup bulan. Manifestasi predominan yang dikaitkan dengan palsiserebral adalah gangguan gerak yang dapat berupa karakter spastik, ataksik atau atetoid. Disfungsi motorik ini biasanya disertai gangguan neurologik lainnya seperti retardasi mental, gangguan visual kortikal dan kejang.
3.       Kardiovaskular: gangguan yang sering mengalami adalah hipotensi akibat hipovolemia, misalnya kehilangan volume karena memang volumenya yang relatip kecil atau gangguan fungsi jantung dan vasodilatasi akibat sepsis. Kejadian PDA ( patent ductus arteriosus) sering terjadi dan dapat mengakibatkan terjadi nya gagal jantung kongestif.
4.       Hematologik: khususnya anemia akibat berbagai macam penyebab dan hiperbilirubinemia
5.       Metabolik: sering terjadi gangguan metabolisme glukosa dan kalsium, terutama pada BKB dengan gangguan nutrisi, sakit berat atau gangguan intrauterin.
6.        Nutrisi: bayi kurang bulan memerlukan perhatian khusus tentang jenis, jumlah dan cara pemberiannya
7.       Gastrointestinal: prematuritas merupakan risiko terbesar untuk enterokolitis nekrotikans
8.       Ginjal: imaturitas ginjal ditandai dengan kecepatan filtrasi glomerulus yang rendah dan ketidak mampuan untuk mengatasi beban air, kepekatan dan keasaman. Dapat terjadi kesulitan dalam manajemen cairan dan elektrolit
9.       Pengaturan suhu: BKB cenderung untuk terjadi hipotermi dan hipertermi
10.    Imunologik: akibat defisiensi respons imun eluler dan humoral, BKB mempunyai risiko terjadi nya infeksi lebih besar dibanding bayi cukup bulan 4,5
11.    Oftalmologik: ROP = retinopathy of prematurity (retinopati akibat prematuritas ) dapat terjadi akibat retina imatur Komplikasi jangka panjang bayi kurang Bulan Bayi kurang bulan sangat rentan untuk terjadi beberapa jenis kesakitan. Meskipun beberapa gangguan pada suatu populasi terhitung kecil, akan tetapi prevalensinya belum jelas. Beberapa penelitian multisenter yang komprehensip menyajikan beberapa data sebagai berikut,5,6
·         Gangguan perkembangan
ü  cacat mayor: palsi serebral, retardasi mental
ü  gangguan sensori: gangguan pendengaran dan gangguan penglihatan
ü  disfungsi otak minimal: gangguan bahasa, gangguan kemampuan belajar, hiperaktivitas, kurangnya perhatian, gangguan perilaku.
·          Penyakit paru kronik
·         Retinopathy of prematurity
·         Gangguan pertumbuhan
·         Frekuensi hospitalisasi dan kesakitan pascanatal meningkat
·         Frekuensi anomali kongenital meningkat
·         Risiko anak terlantar dan ruda paksa pada anak meningkat.


 Manajemen bayi kurang bulan
Hal yang paling penting adalah mencegah persalinan preterm dengan upaya semaksimal atau optimal mungkin dengan cara,
·         Melaksanakan pengawasan antenatal yang baik dan teratur
·         Meningkatkan status gizi ibu
·         Menganjurkan menikah pada usia matang (tidak terlalu muda)
·         Mencegah dan mengobati secara tuntas infeksi Intrauterin
 Bila oleh karena satu dan lain hal, persalinan tetap harus berlangsung atau terpaksa harus dilakukan terminasi kehamilan dengan lebih memperhatikan keselamatan ibu, maka pada persalinan preterm dengan kemungkinan bayi lahir sebagai BKB, maka harus dilakukan upaya preventif dan promotif yaitu, pemberian obat tokolitik pada ibu dan pemberian terapi antenatal kortikosteroid Pemberian Terapi Kortikosteroid antenatal. Kortikosteroid antenatal digunakan untuk membantu perkembangan paru janin. Pada masa postnatal, kortikosteroid telah digunakan terutama untuk mencegah dan mengobati displasia bronkopulmone pada bayi baru lahir. Keuntungan dan risiko terapi ini harus mempertimbangkan kepentingan pasien.
Terdapat bukti yang meyakinkan bahwa pemberian kortikosteroid antenatal dapat menurunkan risiko sindrom distres respirasi, mortalitas dan perdarahan intraventrikular pada bayi kurang bulan. Percepatan perkembangan paru dengan pemberian kortikosteroid berakibat penambahan surfaktan alveolar dan jaringan dan perubahan struktural yang membantu respon terhadap pemberian surfaktan postnatal. Tahun 1994, National Institutes of Health (NIH) Consensus Development Conference merekomendasikan pemberian kortikosteroid antenatal pada wanita hamil yang berisiko mengalami persalinan prematur dalam 7 hari ke depan. Hal ini berdasarkan pada pengamatan bahwa penurunan RDS terjadi paling banyak pada bayi yang lahir antara 24 jam dan 7 hari pemberian. Rekomendasi ini mengarah pada pelaksanaan pemberian rangkaian terapi kortikosteroid jika kehamilan berlanjut lebih dari 1 minggu, walau tidak ada bukti yang mendukung hal ini dari penelitian manusia.
Obat yang sering digunakan adalah betametason dan deksametason, sering disebut glukokortikoid yang diberikan antenatal untuk memacu pertumbuhan paru janin. Digunakan pada saat ibu yang dalam keadaan persalinan preterm yang mungkin akan terjadi dalam waktu 24 - 48 jam kemudian. Hal ini sangat membantu untuk mencegah terjadinya RDS dan komplikasi lain akibat persalinan preterm. Betametason dan deksametason memacu paru bayi untuk memproduksi senyawa yang disebut surfaktan yang berfungsi untuk mengembangkan alveoli paru. Surfaktan akan membasahi lapisan mukosa paru membuat tegangan negatif agar alveoli berkembang. Pada BKB, jaringan paru baru memproduksi sedikit surfaktan dengan pemberian obat ini akan meningkatkan kemampuan untuk bernapas.
Bila BKB dengan masa gestasi antara 24 dan 34 minggu diharapkan dalam waktu 7 hari bayi akan lahir, maka betametason atau deksametason diberikan kepada ibu agar dapat berpengaruh terhadap kematangan paru bayi. Betametason diberikan dalam dua kali suntikan yang berbeda dalam 24 jam, sedangkan deksametason diberikan setiap 12 jam untuk dosis. Bila persalinan tidak terjadi dalam kurun waktu 7 hari, maka suntikan dapat diulang. Beberapa data penelitian menyebutkan bahwa tidak ada manfaat pemberian secara serial, bahkan dijumpai adanya bahaya. Kematangan paru juga dapat diketahui dengan melakukan tes kocok dengan aspirasi air ketuban untuk kemudian dilakukan pemeriksaan untuk menentukan apakah seorang bayi memerlukan kortikosteroid antenatal. Banyak bayi yang lahir pada usia 33–34 minggu kehamilan tetapi sudah memiliki kematangan paru yang cukup sehingga dapat bernapas secara spontan. Manfaat terapi kortikosteroid antenatal Terdapat banyak bukti berbasis medik yang menyatakan bahwa pemberian antenatal kortikosteroid dapat meningkatkan outcome pada bayi yang dilahirkan pada usia 24 – 34 minggu . Juga akan lebih bermanfaat bila persalinan terjadi paling tidak dalam waktu 24 jam sesudah pemberian dosis pertama dan kurang dari tujuh hari sesudah pemberian obat dosis terakhir. Manajemen intrapartum dan postpartum Bila bayi sudah lahir atau hampir lahir, maka dilakukan manajemen sebagai berikut:
1.       Manajemen intrapartum, dengan menerapkan prinsip Pelayanan Neonatal Esensial yaitu, a. Pertolongan persalinan yang bersih dan aman, kemudian sesuai dengan berat badan bayi dirawat di bangsal bayi risiko tinggi (BBRT) atau special care = Level 2 b. Tindakan resusitasi dan stabilisasi : dilakukan resusitasi segera dengan baik dan benar. Tindakan resusitasi sebaiknya dilakukan oleh tenaga yang mempunyai kualifikasi, di tempat fasilitas yang memadai. Oksigen yang adekuat dan suhu yang stabil merupakan salah satu tujuan perawatan pasca natal.
2.       Manajemen bayi baru lahir 
a         Stabilisasi suhu
b        Terapi oksigen dan bantuan ventilasi mekanik
c         Bila terjadi patent ductus arteriosus,: diperlukan terapi konservatif yaitu,
·         Oksigenasi yang cukup, restriksi cairan, diuresis intermitten.
·          Pada kasus yang bergejala, pemberian obat antagonis prostaglandin seperti indometasin mungkin diperlukan
·         Pada beberapa kasus memerlukan terapi pembedahan berupa ligasi.
3.       Terapi cairan dan elektrolit: harus diperhatikan kemungkinan terjadinya kehilangan insensible water loss yang tinggi dan harus memperhatikan dengan benar hidrasi, kadar glukosa darah, kadar elektrolit plasma.
4.       Asupan gizi: pada BKB kemampuan menghisap dan menelan sangat terbatas, di samping adanya intoleransi beberapa minuman, mungkin diperlukan pemberian minum melalui pipa lambung atau bahkan pemberian nutrisi parenteral.
5.        Hiperbilirubinemia: sangat sering terjadi pada bayi yang sangat kecil. Biasanya dapat dikelola dengan efektip dengan cara memantau kadar bilirubin dan terapi sinar /fototerapi. Pada beberapa kasus mungkin diperlukan transfusi tukar.
6.       Infeksi dan sepsis: BKB sangat rentan untuk terjadinya infeksi dan sepsis. Pada BKB dengan BBLR yang dicurigai mengalami sepsis perlu diberikan antibiotik dengan spektrum yang luas. Bagi bayi yang sering mengalami beberapa prosedur klinik, cara asepsis perlu ditingkatkan. Panduan manajemen sepsis pada bayi kurang bulan
a         Bayi kurang bulan dengan gejala klinis dan ibu mendapat terapi antibiotik antepartum, • Periksa biakan darah • Beri pengobatan • Nilai ulang setelah 72 jam • Secara umum lanjutkan antibiotik sampai dengan 10 hari pengobatan. Dapat dipertimbangkan untuk menghentikan antibiotik bila biakan negatif atau tidak terdapat gejala sepsis secara klinis • Bila gejala dan tanda berlanjut dan atau muncul tanda infeksi baru, ini merupakan indikasi untuk melanjutkan antibiotik.
b        Bayi kurang bulan, dengan gejala klinis tetapi ibu tidak mendapat terapi antibiotik pada antepartum • Periksa kultur • Beri pengobatan • Nilai ulang setelah 72 jam • Berikan pengobatan penuh selama 10 hari bila kultur darah positif dan 14–21 hari bila kultur cairan serebrospinal positif.
c         Bayi kurang bulan, tanpa gejala klinis dan ibu mendapat terapi antibiotika antepartum: • Periksa biakan • Beri pengobatan • Nilai ulang setelah 72 jam • Hentikan antibiotik bila bayi tanpa gejala klinik sepsis dan hasil biakan negatif
d        Bayi kurang bulan, tanpa gejala klinis dan ibu tidak mendapat terapi antibiotik antepartum • Tidak dilakukan septic work up atau pengobatan bila bayi dengan berat lahir > 1250 gram dan umur gestasi 30 minggu • Untuk bayi berat lahir < 1250 gram dan gestasi 30 minggu - Periksa kultur - Berikan pengobatan - Nilai ulang setelah 72 jam - Hentikan antibiotik bila bayi tanpa gejala klinik sepsis dan hasil biakan negatif.
7.       Manajemen mencegah gejala sisa
A.      Pengelolaan yang utama adalah pencegahan. Tujuan utama adalah mengidentifikasi janin yang mudah atau cenderung mengalami iskemik-hipoksik oleh karena proses persalinan dan kelahiran.
B.      Resusitasi segera. Semua bayi baru lahir yang mengalami apne saat lahir harus diresusitasi segera karena tidak dapat ditentukan apakah bayi mengalami apne primer atau sekunder. Langkah-langkah resusitasineonatal sebagai berikut,
                                                         I.            Mempertahankan ventilasi adekuat.
                                                       II.             Mempertahankan oksigenasi adekuat (pO2 >40 pada bayi prematur dan pO2 > 50 pada bayi cukup bulan)
                                                     III.            Mempertahankan perfusi adekuat.
                                                    IV.            Mengkoreksi asidosis metabolik dengan penggunaan ekspansi volume secara hatihati dengan tujuan utama menyokong perfusi jaringan
                                                      V.            Mempertahankan kadar serum glukosa normal (~ 75-100 mg/dl)
                                                    VI.            Mengendalikan kejang a. Fenobarbital adalah obat pilihan. Pemberian fenobarbital dilanjutkan sampai pemeriksaan EEG normal dan tidak ada kejadian kejang selama > 2 bulan. Keuntungan terapi profilaktik masih kontroversial. Fenobarbital dosis tinggi (40 mg/kg) menurunkan insidens kejang dan memperbaiki keluaran neurologik saat 3 tahun pada bayi cukup bulan yang pernah mengalami asfiksia. b. Jika kejang terus berlanjut melewati kadar terapeutik fenobarbital, dapat digunakan lorazepam dan fenitoin.
                                                  VII.            Mencegah edem otak. Dasar pencegahan pembengkakan otak yang serius adalah menghindari kelebihan cairan. Dilakukan restriksi cairan moderat (60 ml/kg). Jika terjadi edem otak berat, dilakukan restriksi cairan 50 ml/kg. Awasi tanda SIADH (sindrom inappropriate anti diuretic hormone). Tidak direkomendasikan penggunaan glukokortikoid dan obat osmotik. Terapi terbaru dimaksudkan untuk mencegah kematian neuron saat asfiksia terjadi dikenal sebagai strategi neuroproteksi. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada strategi untuk neuroproteksi adalah,
·         Data dari penelitian pada model bayi hewan menunjukkan bahwa kerusakan otak dapat diredakan, jika terapi segera dilakukan setelah kejadian hipoksik/iskemik
·          Durasi dari jendela terapi ini bervariasi di antara spesies; derajat kerusakan otak dapat ringan bila terapi dimulai dalam 6 jam setelah kejadian hipoksik/iskemik. Diperkirakan terdapat waktu 6- 12 jam setelah kejadian asfiksia dimana pemberian agen neuroprotektif dapat menurunkan atau mencegah kerusakan otak Mencegah kerusakan otak tergantung dari status awal otak janin.  Menekan metabolisme serebral secara keseluruhan dan penekanan agen neurotoksik spesifik yang ditargetkan.

Ringkasan
·         Bayi kurang bulan mempunyai risiko tinggi terhadap kematian dan kecacatan akibatan kegagalan dalam adaptasi ke kehidupan ekstra uterin.
·          Proses adaptasi yang tidak berjalan semestinya dapat mengakibatkan keadaan gawat darurat neonatus yang menjadi pangkal bencana, karena dapat mengakibatkan kematian atau kecacatan.
·         •Faktor –faktor yang mempengaruhi persalinan preterm atau BKB baik yang berasal dari faktor ibu, janin, maupun lingkungan.
·          Masalah yang sering dijumpai oleh BKB dapat terjadi pada berbagai sistem organ vital, antara lain asfiksia neonatorum, RDS, infeksi, perdarahan intrakranial, PDA, enterokolitis nekrotikans, hipotermia, gangguan nutrisi, gangguan metabolik dan gangguan optalmologik berupa retinopati akibat prematuritas.
·         Komplikasi jangka panjang BKB berupa gangguan perkembangan baik cacat mayor maupun gangguan perilaku antara lain, retinopati akibat prematutrity, penyakit paru kronik, gangguan pertumbuhan, perawatan dan kesakitan pasca natal meningkat, kelainan anomali kongenital meningkat, risiko peningkatan anak terlantar dan ruda paksa pada anak.
·         Manajemen yang paling penting dan utama adalah pencegahan terjadinya persalinan preterm.
·         Terapi antenatal steroid dianggap memberi manfaat dalam pematangan fungsi paru.
·         Tindakan resusitasi, pemberian cairan dan elektrolit dan asupan gizi yang cukup serta pengobatan infeksi dan sepsis harus dilakukan segera dengan cara yang benar.
·         Pencegahan gejala sisa neurologis harus segera diantisipasi dengan strategi neuroproteksi.

Daftar Pustaka
Buku Panduan Manajemen Masalah Bayi Baru Lahir Untuk Dokter, Perawat, Bidan di Rumah Sakit Rujukan Dasar. Adaptasi Draft WHO.Kerjasama UKK Perinatologi IDAI – Departemen Kesehatan RI – MNH-JHPIEGO, Eds . Kosim MS, Surjono A, Setyowireni D, Jakarta , 2004.
Campbell N.Low Birth Weight Babies. Didapat dari: http:// hnb.dhs.vic.gov.au/commcare/yafs , diunduh tanggal 2003
Stoll BJ, Kliegman RM. The fetus and the neonatal infant. Dalam : Behrman RE, Kliegman R, Arvin AM, penyunting. Nelson’s Text Book of Pediatrica. Edisi keenambelas. Philadelphia: W.B. Saunders Company; 2000. h. 474 – 95
Smith JF. Prematurity. Available in: http://www. chclibrary.org/ .prematurity\htm. Diunduh tanggal 15 Maret 2005.
Pursley DW, Cloherty JP. Identifying the high risk newborn and evaluating gestational age, premaruruty, post maturity. Dalam Cloherty JP, Stark AR, penyunting. Manual of neonatal care, Edisi keempat. Boston: Lippincott Raven; 1998. h. 38 -51
Snyder EY, Cloherty JP. Perinatal Asphyxia. Dalam: Cloherty JP, Stark AR, penyunting. Manual of Neonatal Care, Edisi keempat. Boston: Lippincott Raven; 1998. h. 515 -21
Perlman JM. Intrapartum Hypoxic Ischemic Cerebral Injury and Subsequent Cerebral palsy : Medico legal issues. Pediatrics, 1999; 99:851-9.
Gomella TL, Cunningham MD, Eyal FG, Zenk KE. Perinatal Asphyxia. Dalam: Neonatology, Edisi keempat. Lange Medical Book, New York: 1999. h. 480 - 9
Yu VYH, Monintja HE, Amir I. Asfiksia Perinatal . Dalam: Beberapa Masalah Perawatan Intensif Neonatus, Balai Penerbit FK UI, Jakarta,1977. h. 129 – 45
Paclac Manual guideline. Post asphyxia management. Didapat dari: http://www.paclac.org/Manuals_Guidelines/ Post-Asphyxia Management of the Neonatea/pdf
Stark AR.Use of antenatal dan postnatal steroids. Dalam: Rao MN, Sagar DV and Fernandez A, penyunting. Recent advances in neonatology. Edisi pertama. New Delhi: Jaypee Brothers; 2004. h. 1-6
Kathe Gallagher, MSW . Antenatal corticosteroids for fetal lung development. Didapat dari: http://www.sentara. com
Moses S. Neonatal sepsis in family practice notebook. Didapat dari: http://www.fpnotebook.com/NC45.htm
 Sutomenggolo TS, Ismael S. Asfiksia dan trauma perinatal. Dalam: Buku Ajar Neurologi Anak. Penyunting: Sutomenggolo TS, Ismael S. Edisi I, BP IDAI, Jakarta, 1999. h. 307 – 33

15. Papile LA. Recent concepts in management of hypoxic ischemic encephalopathy. Dalam: Rao MN, Sagar DV and Fernandez, penyunting. A Recent advances in neonatology. Edisi pertama. New Delhi: Jaypee Brothers; 2004. h. 72-7

Pengguanaan Teori Dalam Program Promosi Kesehatan


Kegunaan Teori Untuk Program

          Teori adalah Panduan terorganisir dan sistematis tentang pengetahuan, yang berlaku dalam berbagai macam keadaan, dirancang untuk menganalisis, memprediksi atau menjelaskan sifat atau seting fenomena perilaku, yang dapat digunakan sebagai dasar untuk tindakan (Van Ryn dan Heaney, 1992.

Pengembangan Teori Dalam Praktik Promosi Kesehatan 
Sebuah teori yang dikembangkan harus sepenuhnya dapat mampu menjelaskan hal-hal berikut:
 1. Faktor-faktor utama apa saja yang mempengaruhi tujuan                  program sebagai fenomena yang menarik
 2. Hubungan antar faktor, misalnya hubungan antara pengetahuan,      kepercayaan, norma- sosial dan perilaku
 3. Kondisi dimana hubungan dapat atau tidak terjadi. Bagaimana,        kapan dan mengapa hubungan terjadi.

Menggunakan teori untuk memandu perubahan tingkah laku individu 
        Fakta membuktikan bahwa tidak semua program kes/promkes mencapai tujuan dan sasaran. Pengalaman memberitahu kita bahwa program promosi kesehatan yang paling mungkin berhasil bila faktorfaktor penentu masalah dipandu dengan teori. (Green dan Kreuter, 1999; Nutbeam dan Harris, 2004)

     Green melanjutkan bahwa: Program promosi kesehatan yang dikembangkan harus menggunakan referensi teori yang jelas, sehingga meningkatkan peluang keberhasilan dalam mencapai tujuan program sebagaimana ditentukan.

Menggunakan Teori Dalam Praktik Perilaku Individu
    Kebanyakan teori promosi kesehatan berasal dari ilmu-ilmu perilaku dan sosial, seperti psikologi dan sosiologi, manajemen, perilaku konsumen dan pemasaran.

Menggunakan Teori DalamPraktik Perilaku Individu
  Keragaman tersebut mencerminkan fakta bahwa praktek promosi kesehatan tidak hanya berkaitan dengan perilaku individu tetapi juga dengan cara-cara di mana masyarakat terorganisir, ada
kebijakan dan struktur organisasi yang mendukung.

Menggunakan Teori Dalam Praktik Perilaku Individu
  Potensi teori untuk memandu pengembangan intervensi promosi kesehatan. Ada beberapa model perencanaan namun yang paling dikenal dari perencanaan ini adalah PRECEDE/PROCEED
Green dan Kreuter (1999).

Teori secara praktis akan membantu kita untuk lima tahap
kegiatan program:
1. Mendefinisikan masalah
2. Pemilihan Metode
3. Peningkatan kapasitas
4. Penetapan/Pemilihan kegiatan
5. Pengukuran Hasil

Peran Teori Dalam 5 Tahap Pengembangan Program
1. Definisi Masalah: Teori dapat menginformasikan pilihan Anda
    untuk fokus variabel/faktor intervensi.
2. Solusi Metode: Teori yang berbeda dapat membantu anda                 memahami metode yang bisa digunakan. Peran teori dalam 5           tahap pengembangan program
3. Peningkatan Kapasitas: Teori membimbing cara memobilisasi
    sumber daya, peningkatan kapasitas dalam organisasi
4. Tindakan Promkes: Penggunaan teori membantu Anda untuk           memahami keberhasilan atau kegagalan dalam program yang           berbeda. Peran Teori Dalam 5 Tahap Pengembangan Program
5. Pengukuran Hasil: Teori dapat memberikan panduan tentang
    langkah-langkah yang tepat yang dapat digunakan untuk menilai     setiap kegiatan. 

1. Model Kepercayaan Kesehatan (HBM)

        HBM adalah model klasik yang dirancang untuk menjelaskan perilaku kesehatan dengan memahami keyakinan orang tentang kesehatan. Pada intinya, HBM menunjukkan bahwa kemungkinan individu untuk mengambil tindakan atas masalah kesehatan yang dialami didasarkan pada interaksi antara empat jenis keyakinan.

Empat Tahap Dalam Model Kepercayaan Kesehatan (HBM)
  1. Individu menganggap dirinya rentan terhadap kondisi atau masalah penyakit 
  2. Percaya hal itu akan memiliki konsekuensiyang berpotensi serius.
  3. Percaya suatu tindakan yang tersedia yangakan mengurangi kerentanannya, ataumeminimalkan konsekuensi
  4. Individu percaya bahwa manfaat dari mengambil tindakan akan lebih besar dari pada biaya atau hambatan 
2. Model Tahapan perubahan (transtheoretical) Model ini                     dikembangkan untuk menggambarkan dan menjelaskan                   tahaptahap yang berbeda dalam perilaku Perubahan (Prochaska       dan DiClemente, 1984). Model ini didasarkan pada premis               bahwa Perubahan perilaku adalah proses, bukan peristiwa, dan         bahwa individu memiliki berbagai tingkat motivasi atau kesiapan     untuk mengubah. 
Lima tahap perubahan Teridentifikasi :
  1. Pre kontemplasi: ini menggambarkan individu yang bahkan tidak mempertimbangkan untuk mengubah perilaku atau secara sadar dimaksudkan untuk tidak mengubah
  2. Kontemplasi: tahap di mana seseorang menganggap membuat perubahan ke perilaku tertent.
  3. Penentuan, atau persiapan: tahap di mana seseorang membuat komitmen yang serius untuk mengubah. 
  4. Tindakan: tahap di mana perubahan perilaku dimulai
  5. Pemeliharaan: mempertahankan perubahan, dan pencapaian keuntungan kesehatan diprediksi. Relapse mungkin juga tahap kelima.
3. Teori Sosial Kognitif (Model Pembelajaran Sosial)

        Teori yang paling banyak digunakan dalam promosi kesehatan karena alamat kedua faktor penentu yang mendasari perilaku kesehatan dan metode mempromosikan perubahan. Teori ini dibangun atas pemahaman tentang interaksi yang terjadi antara individu dan lingkungan mereka (Bandura 1995).

      Teori yang paling banyak digunakan dalam Teori kognitif sosial menunjukkan bahwa hubungan antara manusia dan lingkungan mereka lebih halus dan kompleks. Determinisme timbal balik Ini menggambarkan cara di mana individu, lingkungan dan perilaku mereka terus berinteraksi dan mempengaruhi satu sama yang lainnya. Pemahaman tentang interaksi ini dan cara di mana (dalam contoh) modifikasi norma-norma sosial dapat berdampak pada perilaku wawasan penting tentang bagaimana perilaku dapat diubah melalui intervensi promosi. 

Teori Perilaku Beralasan

        Teori ini adalah pengembangan selanjutnya oleh orang yang sama yaitu Fishbien dan Ajzen Keduanya mengembangkan pendekatan lanjut dari Teori Aksi Beralasan menjadi Teori Perilaku
Beralasan (TPB) Faktor niat diduga sebagai sentral dari perubahan
perilaku. Niat terletak dalam odel TPB antara sikap dan perilaku . Sentralitas Niat Perilaku mempertanyakan model klasik Keyakinan, Sikap, Perilaku (Conner & Sparks, 1995).

      Dalam kerangkanya, variable niat terjadi sangat ditentukan oleh: Sikap terhadap perilaku, ditentukan oleh keyakinan bahwa perilaku tertentu akan memiliki konsekuensi nyata. Norma subyektif, atau keyakinan apakah orang lain akan menyetujui perilaku seseorang, ditambah motivasi pribadi untuk memenuhi dengan harapan orang lain. 

       Persepsi kontrol perilaku, ditentukan oleh keyakinan tentang akses ke sumber daya yang dibutuhkan untuk bertindak , ditambah
keberhasilan yang dirasakan sumber daya (informasi, kemampuan, keterampilan, ketergantungan atau kemerdekaan dari orang lain,
hambatan, peluang, dan lain-lain) Variabel sosio-demografi dan sikap kepribadian, norma subyektif dan kontrol perilaku yang
dirasakan. Ini adalah sama seperti di HBM tersebut.

Selasa, 04 Oktober 2016

Asuhan Keperawatan Harga Diri Rendah

       Pernahkah anda melihat seorang wanita cantik mengalami kecelakaan lalu lintas dengan menggunakan mobil mewahnya, yang mengakibatkan wanita cantik tersebut mengalami luka pada wajahnya sehingga wajahnya rusak dan juga terjadi fraktur pada lengan kananya. Wanita cantik tersebut dirawat disuatu Rumah Sakit. Pada saat dibezub oleh sahabat-sahabat dekatnya wanita cantik tersebut tidak mau melihatkan wajahnya, sering menundukan kepala, tidak mau berkomunikasi  karena malu dengan keadaan yang dialaminya.
       Dari ilustrasi tersebut diatas wanita tersebut diatas mengalami masalah Harga Diri Rendah. Untuk lebih memahami tentang Harga Diri Rendah maka pada buku unit 3 ini akan membahas asuhan keperawatan Jiwa Gangguan mental Pskiatri Tentang : Harga Diri Rendah.

Buku unit 3 ini membahas tentang :

Pengertian, Psikodinamika terdiri dari : etiologi, proses, dan kompliksi. Rentang Respon, Asuhan Keperawatan yang terdiri dari : Pengkajian Keperawatan, Diagnosa Keperawatan, Perencanaan Keperawatan, Implementasi Keperawatan dan Evaluasi Keperawatan. 

A. PENGERTIAN
Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang di capai dengan cara menganalisis seberapa banyak kesesuain tingkah laku dengan kesesuain ideal dirinya (susilawati Skp, M. Kes dkk hal 92).
Harga diri adalah : keadaan dimana individu mengalami atau berisiko mengalami evaluasi diri negative tentang kemampuan atau diri (Carpeneto 2001)
Harga diri rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri atau kemampuan diri negative yang dapat dideskripsikan secara langsung maupun tidak langsung diekspersikan. ( marry. C. towsend 2000).
Harga diri rendah kronik adalah : keadaan dimana individu mengalami evaluasi diri negative mengenai diri atau kemampuan dalam waktu yang lama, yaitu sebelum sakit atau dirawat.

Gangguan harga diri rendah bisa terjadi secara
1.    Situasional
     Adalah : terjadi trauma secara tiba-tiba seperti :
-          Harus operasi, kecelakaan.
-          Dicerai suami, putus sekolah         
-          Putus hubungan kerja, perasaan malu karena terjadi sesuatu.
Klien yang dirawat dapat terjadi harga diri rendah adalah :
a.    Privacy yang kurang diperhatikan
Misalnya : pemeriksaan fisik yang sembarangan pemasangan alat yang tidak
    sopan.
b.    Harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh tidak tercapai karena di rawat.
c.    Perlakuan petugas yang tidak menghargai
         Misalnya : Pemeriksaan yang tidak ada penjelasan.

2. Kronik
 Tanda dan gejala yang dapat dikaji adalah :
1.      Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan akibat terhadap tindakan
  1. Rasa bersalah terhadap diri sendiri
  2. Merendahkan martabat
  3. Gg hubungan sosial spt menarik diri
5. Percaya diri kurang sulit mengambil keputusan
6. Menciderai diri.
B. PSIKODINAMIKA
1.   Etiologi
Gangguan harga diri dapat di gambarkan sebagai perasaan yang negative
terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan, merasa gagal mencapai keinginan.
Harga diri rendah kronik diakibatkan sering merasa gagal dalam men
Gadapi kehidupan dan berpandangan negative terhadap dirinya dimana koping klien tidak efektif sehingga klien mempunyai perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan akibat terhadap tindakan rasa bersalah terhadap diri sendiri merendahkan martabat sehingga klien mengalami gangguan hubungan sosial seperti menarik diri
Tanda dan gejala klien yang mengalami haraga diri rendah:
-          Perasaan malu terhadap diri sendiri.
-          Akibat penyakit dan akibat terhadap tindakan
-          Rasa bersalah terhadap diri sendiri
-          Merendahkan martabat
-          Gangguan  hubungan sosial seperti menarik diri
              -          Percaya diri kurang sulit mengambil keputusan 
2.  Proses Terjadinya
Gangguan harga diri rendah dapat terjadi secara situsional yaitu terjadi trauma secara tiba – tiba missal harus operasi, kecelakaan, dicederai suami atau istri putus sekolah, putus hubungan kerja, perasaan malu karena sesuatu terjadi
( korban perkosaan, tuduhan KKN, dipenjara tiba – tiba ).dan apabila berlangsung lama akan menjadi kronik yaitu perasaan negative terhadap diri yang telah berlangsung lama yaitu sebelum sakit atau sebelum dirawat. Klien memiliki cara berfikir yang negative. Terjadiny aharga diri rendah secara kronik pada klien yaitu pada masa dewasa akhir karena kehilangan pasangan yang dicintai secara traumatis dan kehilangan peran sebagai wanita ( stuart dan sundeen 2000)
1.  Komplikasi 
              Komplikasi yang biasa terjadi pada klien dengan gangguan harga diri rendah kronik yaitu isolasi social dan resiko gangguan Persepsi sensori : Halusinasi. Hal ini bisa terjadi karena klien dengan harga diri rendah cenderung untuk menyendiri, melamun mendengar suara bisikan-bisikan, malas melakukan kegiatan dan hanya ingin tidur. Klien dengan harga diri rendah selalu menganggap dirinya negative  dan merasa benci serta penolakan terhadap dirinya sendiri yang dapat mendorong klien untuk tidak berinteraksi dengan orang lain.  
         
      C. RENTANG RESPON
       Rentang respon konsep diri terdiri atas komponen-komponen sebagai berikut adalah :
  1. Aktualisasi diri adalah pernyataan diri tentang konsep diri yang positif dengan latar belakang pengalaman nyata yang sukses dapat diterima.
  2. Konsep diri positif adalah apabila individu mempunyai pengalaman yang positif dalam beraktualisasi diri dan menyadari hal-hal positif maupun yang negative.
  3. Harga diri rendah adalah individu cenderung untuk menilai dirinya negative dan merasa lebih rendah dri orang lain.
  4. Kerancuan identitas adalah kegagalan indifidu menginterprestasikan aspek-aspek identitas masa kanak-kanak kedalam kematangan aspek psikososial keperibadian pada masa dewasa yang harmonis.
  5. Depersonalisasi adalah perasaan yang tidak realistis dan asing terhadap diri sendiri yang berhubungan dengan kecemasan kepanikan serta tidak dapat membedakan dirinya dengan orang lain.

D. ASUHAN KEPERAWATAN
               Dalam memberikan Asuhan Keperawatan terhadap klien harga diri rendah kronik, seorang perawat hams mempunyai kesadaran yang tinggi agar dapat mengenal dan menerima serta mengevaluasi perasaan sendiri sehingga dapat dirinya sebagai Therapeutik. Pemberian Asuhan Keperawatan terhadap klien dengan harga diri rendah kronik  perawat harus bersikap jujur, empati, tcrbuka, dan selalu memberi penghargaan, tetapi tidak boleh tenggelam, juga menyangkal halusinasi yang kita miliki. Asuhan Keperawatan dimulai dari pengkajian sampai evaluasi.
1.     Pengkajian Keperawatan
Pada tahap ini perawat menggali faktor - faktor seperti factor Predisposisi dan faktor Prespitasi, Manifestasi perilaku dan Mekanisme koping.

a.  Faktor Predisposisi
Berbagai  factor  yang menunjang  terjadinya  perubahan  dalam
harga diri seseorang adalah sebagai berikut : 
1)     Faktor Perkembangan
Jika seseorang mengalami hambatan dengan tugas perkembangan dan hubungan interpersonal dengan orang lain terganggu, maka individu akan dihadapi dengan stress dan kecemasan pada dirinya.

2)   Faktor Sosiokultural
Berbagai faktor yang ada dilingkungan dan dimasyarakat dapat menyebabkan orang merasa diasingkan atau disingkirkan, sehingga klien merasa kesepian dalam lingkungan dimana dia berada, walaupun dia ada dalam lingkungan yang ramai.
3)   Faktor Biokimia
Faktor biokimia ini mempunyai pengaruh terhadap terjadinya ganggtian jiwa dimana teori biokimia menyatakan adanya peningkatan dari dopamine neurotransmiter yang diperkirakan menghasilkan gejala peningkatan aktifitas yang berlebihan sehingga dapat menghasilkan zat halusinogen.
4)   Faktor Psikologis
Hubungan interpersonal yang tidak harmonis akan mengakibatkan stress dan kecemasan, orang yang mengalami psikososial akan mengakibatan dan menghasilkan hubungan yang penuh dengan kecemasan tinggi. Peran ganda yang bertentangan dan sering
diterima oleh anak akan mengakibatkan stress dan kecemasan yang tinggi dan berakhir dengan gangguan orientasi realita.
5)   Faktor Biologi
Dalam schizoprenia belum diketahui gen yang berpengaruh, tetapi hasil penelitian menunjukan bahwa faktor keluarga menunjukan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini.




b.  Faktor Presipitasi
   Stressor merupakan pencetus yang ditimbulkan dari sumber internal dan eksternal adalah :
1)  Trauma seperti penganiayaan fisik dan psikologis atau penyiksaan kejadian yang mengancam kehidupan.
2)  Stress lingkungan Secara biologis menetapkan ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi dengan stressor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.
3)  Ketegangan peran berhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan dimana individu mengalaminya sebagai prustasi.
      Ada tiga Jenis transisi peran yaitu :
a. Transisi peran perkembangan adalah perubahan normative yang berhubungan denganpertumbuhan. Ini termasuk tahap perkembangandalam kehidupan individu atau keluarga dan
norma-norma budaya, nilai-nilai dan tekanan untuk penyesuaian diri. 
b.  Transisi peran situasi terjadi dengan pertambahan atau berkurangnya anggota keluarga melalui kelahiran atau kematian.
c.    Transisi peran sehat sakit sebagai akibat pergeseran dari keadaan sehat kekeadaan sakit. Transisi ini mungkin di cetuskan :
-  Kehilangan anggota tubuh.
-  Perubahan ukuran, bentuk, penampilan dan fungsi tubuh.
-  Perubahan fisik berhubungan dengan tumbuh kembang
  normal.
-  Prosedur medis dan perawatan. 
c.  Manifestasi
    1)  Perilaku
Individu dengan harga diri rendah akan menunjukan prilaku seperti mengkritik diri sendiri dan orang lain, gangguan berhubungan dengan orang lain , menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah persepsi negative terhadap diri sendiri, serta kurang percaya diri.

a.   Prilaku yang berhubungan dengan hargadiri rendah adalah mengkritik diri sendiri, orang lain, penurunan aktifitas, destruktif Prilaku yang berhubungan dengan kerancuan identitas
b.  Tidak ada kode moral, sifat keperibadian yang bertentangan, hubungan interpersonal eksploratif, perasaan hampa, perasaan yang diarahkan dengan oranglain.
mengambang tentang diri sendiri, menarik diri secara social, penyalahgunaan zat,  menarik diri dari realitas, kwatir.
c.   Prilaku yang berhubungan dengan depersonalisasi adalah terganggunya, apektif, kognitif, prilaku, sumber-sumber koping.   
   2)  Mekanisme Koping
Mekanisme koping termasuk mekanisme koping jangka pendek mekanisme koping jangka panjang dan mekanisme koping ego yang sering digunakan klien dengan harga diri rendah kronik.

a.    Mekanisme koping jangka pendek adalah :
-      Aktivitas yang dapat memberikan pelarian sementara dari krisis identitas misalnya konser music, bekerja keras, menyanyi.
-       Aktifitas yang dapat memberikan identitas penggantian sementara, misalnya ikut dalam aktifitas social, agama, ikit club, politik.
-          Aktivitas yang sementara menguatkan perasaan diri, misalnya olah raga.
-          Aktivitas yang mewakili upaya jangka pendek untuk
membuat masalah, identitas menjadi kurang berarti dalam kehidupan individu, misalnya penyalahgunaan zat.
b.    Mekanesme koping jangka panjang adalah :
-     Penutupan identitas, terlalu menutupi idetitas yang disenangi dari orang-orang yang berarti tanpa mengindahkan atau memperhatikan keinginan, aspirasi dan potensi diri.
-       Identitas negative, asumsi yang tidak wajar untuk dapat diterima oleh nilai dan harapan masyarakat.
c.    Mekanisme koping ego.
Mekanisme koping ego yang sering digunakan adalah fantasi, disosiasi, isolasi social, pergeseran (displasment), peretakan (splitting), berbalik marah terhadap diri sendiri, acuh.

2.   Diagnosa Keperawatan
                      Menurut Stuart and  Sundeen alih bahasa Achiryani  ( 2002  :  5  )                           mengatakan  bahwa diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan masalah                     keperawatan  Wien yang mencakup baik respon sehat adaptif serta stressor yang               menunjang. 
         Diagnosa Keperawatan  
  • Gangguan Harga Diri Rendah  (Situasional, Kronik)
  • Isolasi Sosial 
  • Berduka dispungsional  
    1.     Perencanaan  Keperawatan
    a.     Diagnosa: Gangguan harga diri rendah 
    Tujuan umum = klien dapat berhubungan dengan orang  lain secara optimal.
    Tujuan khusus 1 : 
    Klien dapat membina hubungan saling percaya
    Kreteria evaluasi :
    Setelah dilakukan tindakan keperawatan ekspresi wajah klien bersahabat, menunjukan rasa senang, ada kontak mata, mau menjawab salam, klien mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah
    yang dihadapi.
    Intervensi :
    (1) Klien dapat membina hubungan saling percaya
    a.  Sapa klien dengan ramah.
    b.   Perkenalkan diri dengan sopan.
    c.  Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai klien.
    d.   Jelaskan tujuan pertemuan.
    e,   Jujur dan menempati janji.
    f.    Tunjukkan sifat empati dan
    g.  Beri perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar.
    Tujuan khusus 2 : 
    Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimilikinya.
    Kreteria evaluasi :
    Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien dapat mengidentifikasi kemempuan aspek positif yang dimilikinya.
    Intervensi :
    (2) Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimilikinya.
    a.  Diskusikan kemampuan  dan aspek positif yang dimiliki  klien.
    b.  Setiap bertemu klien hindarkan pemberian negative.
    c.  Utamakan untuk memberikan ptjian yang realistis.
    Tujuan khusus 3 : 
    Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.


     Kreteria evaluasi :
    Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien mampu menilai kemampuan yang dapat digunakan.
      Intervensi :
     (3) Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.
    a. Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit.
    Tujuan khusus 4  : 
    Klien dapat menetapkan atau merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
     Kreteria evaluasi :
    Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien dapat membuat rencana kegiatan hariaan.
    Intervensi :
    (4)  Klien dapat menetapkan atau merencanakan kegiatan
          sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
    a.    Rencanakan bersama klien aktifitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai dengan kemampuan kloen.
    -  Kegiatan mandiri
    -  Kegiatan dengan bantuan sebagian
    -  Kegiatan yang membutuhkan bantuan total.
    b.   Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi
    c.  Beri contoh cara melaksanakan kegiatan yang boleh klien
        lakukan.
    Tujuan khusus 5  : 
    Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya.
    Kreteria evaluasi :
    Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya.
      Intervensi :
    (5)  Klien dapat melakukan kegiatan  sesuai kondisi sakit dan
      kemampuannya
    a.      Berikan kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah di rencanakan.
    b.  Beri pujian atas keberhasilan klien.
    c.  Diskusikan kemungkinan pelaksanaan dirumah.
    Tujuan khusus 6  : 
     Klien dapat memamfatkan system pendukung yang ada.

    Kreteria evaluasi :
     Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien dapat memamfatkan system pendukung yang ada pada keluarga.
      Intervensi :
    (6)  Klien dapat memamfatkan system pendukung yang ada.
    a.  Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan haraga diri rendah.
     b.  Bantu keluarga menyiapkan lingkungan durumah

    4. Pelaksanaan Keperawatan
    Pelaksanaan keperawatan merupakan tindakan yang diberikan oleh perawat dengan mencatat pelaksanaan rencana keperawatan, menggunakan   strategi pelaksanaan yang terdiri dari SPI, SP2, SP3, SP4, pemenuhan kriteria hasil dan tindakan keperawatan mandiri dan tindakan kolaborasi.
    (Budi Anna Keliat, 2006 hal 16)

     

    Psikofarmaka:
    -    Haloperidol        3 x 5 mg/hari
    -    Trihexypenidyl    3 x 2 mg/hari
    -   CPZ                   3 x 1.000 mg/hari
    Tahapan pelaksanaan terdiri dari :
    a)  Persiapan terhadap keterampilan (peralatan, lingkungan pengetahuan yang diperlukan sebelum melaksanakan tindakan yang sudah direncanakan, perawat perlu memvalidasi dengan singkat, apakah rencana tindakan sesuai dan dibutuhkan oleh klien saat ini. Perawat juga menilai diri sendiri, apakah mempunyai kemampuan interpersonal, intelektual, dan tehnikal yang diperlukan untuk melaksanakan tindakan. Perawat juga menilai kembali keperawatan boleh dilaksanakan. Pada saat akan melakukan tindakan keperawatan, perawat melakukan kontrak dengan klien yang isinya menjelaskan dam peran serta yang diharapkan dari klien. (Budi Anna Keliat, 2006 hal 17).
    d)  Pelaksanaan yang bersifat mandiri dan kolaborasi
    Tindakan keperawatan mandiri merupakan tindakan yang dilakukan oleh perawat tanpa peran dokter, tindakannya mencakup: mengkaji klien, mencatat respon klien terhadap tindakan, melaporkan status klien kepada
    petugas jaga berikutnya. Tindakan kolaborasi adalah tindakan yang dilakukan oleh perawat yang berkerja sama dengan tim kesehatan lainnya untuk mengatasi masalah klien. Tindakan mencakup perencanaan pulang, membahas respon klien.
    c)  Dokumentasi
    Tindakan keperawatan harus diikuti oleh perencanaan yang lengkap dan akurat terhadap suatu kejadian dalam proses keperawatan.




    5.  Evaluasi Keperawatan
    Evaluasi adalah catatan tentang indikasi kemajuan klien terhadap kemajuan yang dicapai, evaluasi dilakukan terus menerus pada respon klien terhadap tindakan keperawatan (A. Aziz Alimul Hidayat, 2002 hal 41) Proses evaluasi terdiri dari :
    a)    Evaluasi formatif yang dapat menyatakan evaluasi dilakukan pada saat memberikan intervensi dengan respon segera.
    b)     Evaluasi somatif merupakan rekapitulasi dari observasi dan analisa status pasien pada waktu tertentu.
    Adapun hasil akhir atau evaluasi yang diharapkan dari klien dengan halusinasi
    setelah dilakukan implementasi menurut (Achir Yani dkk, 2001)
    adalah sebagai berikut, klien dapat:
    a)     Menjelaskan waktu dan tempat terjadinya halusinasi.
    b)     Menyebutkan saat terjadinya halusinasi.
    c)     Membedakan hal yang nyata dan yang tidak nyata.
    d)     Memilih cara untuk mengatasi halusinasinya.
    e)     Berinteraksi dengan orang lain tanpa rasa curiga.
    f)     Berespon sesuai dengan stimulasi dari luar dirinya  dan
    g)     Pasien tidak mencederai diri sendiri orang lain dan lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall. (2001). Buku SAku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC

Copel, Linda Carman. (2007). Kesehatan Jiwa dan Psikiatri : Pedoman Klinis Perawatan. Edisi 2. Jakarta : EGC

Isaacs, Ann. (2004). Pandangan Belajar Keperawatan Kesehatan Jiwa dan Psikiatri. Edisi 3. Jakarta : EGC

Keliat, Budi Anna “dkk”. (2000). Asuham Keperawatan Pada Klien Gangguan Hubungan Sosial. Jakarta : FKUI

Stuart, Gail W. (2006). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta : EGC

Sunaryo, Drs, M.Kes (2004). Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta : FGC

Susilawati. Skp.Mkes. (2003). Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC